Pendidikan di perguruan tinggi tidak hanya bertujuan memberikan pengetahuan akademik, tetapi juga membentuk mahasiswa agar mampu berpikir kritis dalam menghadapi berbagai persoalan. Kemampuan berpikir kritis membantu mahasiswa memahami informasi, melihat suatu masalah dari berbagai sudut pandang, serta mengambil kesimpulan berdasarkan alasan yang logis. Selain melalui perkuliahan, kemampuan tersebut dapat dikembangkan melalui aktivitas organisasi dan pers mahasiswa. LPM Psikogenesis UNM menjadi salah satu wadah yang dapat memberikan ruang bagi mahasiswa untuk melatih kemampuan berpikir kritis melalui kegiatan jurnalistik dan diskusi.
Pemikiran kritis dapat dimulai dari kebiasaan bertanya. Mahasiswa perlu memiliki rasa ingin tahu terhadap berbagai informasi yang diterima, termasuk informasi yang beredar di lingkungan kampus maupun media digital. Sikap kritis bukan berarti selalu menolak suatu pendapat, tetapi berusaha memahami dasar informasi, mencari bukti, dan mempertimbangkan berbagai perspektif sebelum mengambil kesimpulan.
Dalam kegiatan pers mahasiswa, proses pencarian informasi dapat menjadi latihan berpikir kritis. Mahasiswa perlu menentukan topik yang relevan, melakukan riset, mencari sumber yang dapat dipercaya, dan melakukan wawancara dengan narasumber. Proses tersebut mendorong mahasiswa untuk tidak hanya menerima informasi secara mentah, tetapi mengolahnya terlebih dahulu sebelum disampaikan kepada pembaca.
LPM Psikogenesis UNM dapat menjadi ruang untuk mengembangkan berbagai karya jurnalistik, seperti berita, artikel, feature, maupun opini. Setiap jenis karya memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengeksplorasi sebuah persoalan dengan pendekatan yang berbeda. Dalam penulisan opini, misalnya, mahasiswa dapat menyampaikan pandangan berdasarkan argumentasi yang didukung oleh informasi relevan. Sementara itu, karya berita menuntut ketelitian dalam menyampaikan fakta dan konteks suatu peristiwa.
Diskusi juga memiliki peran penting dalam menumbuhkan pemikiran kritis. Bertukar pendapat dengan sesama mahasiswa dapat memperkenalkan perspektif yang berbeda. Perbedaan pandangan dapat menjadi kesempatan untuk menguji argumentasi dan memahami suatu persoalan secara lebih luas. Melalui diskusi yang sehat, mahasiswa dapat belajar menyampaikan pendapat dengan alasan yang jelas sekaligus menghargai pendapat orang lain.
Di era digital, kemampuan berpikir kritis semakin dibutuhkan karena mahasiswa berhadapan dengan arus informasi yang sangat besar. Media sosial memungkinkan sebuah informasi menyebar dengan cepat, tetapi kecepatan tersebut tidak selalu disertai dengan kebenaran. Mahasiswa perlu memiliki kemampuan literasi media untuk memeriksa sumber, membandingkan informasi, mengenali konteks, dan menghindari penyebaran informasi yang belum terverifikasi.
Selain menulis dan berdiskusi, aktivitas jurnalistik juga melatih mahasiswa untuk mengamati lingkungan sekitar. Peristiwa yang terlihat sederhana dapat menjadi topik yang menarik ketika dikaji lebih mendalam. Kebiasaan mengamati dapat meningkatkan kepekaan mahasiswa terhadap berbagai persoalan sosial, akademik, dan kemahasiswaan.
Pada akhirnya, LPM Psikogenesis UNM dapat menjadi salah satu ruang pembelajaran yang mendukung tumbuhnya pemikiran kritis mahasiswa. Melalui kegiatan riset, peliputan, penulisan, diskusi, dan publikasi, mahasiswa memperoleh pengalaman untuk memahami informasi secara lebih mendalam. Kemampuan tersebut dapat menjadi bekal penting dalam menghadapi kehidupan akademik, dunia profesional, maupun berbagai persoalan di masyarakat.
Pemikiran kritis referensi ilmu psikologi tidak terbentuk secara instan. Kemampuan tersebut membutuhkan kebiasaan membaca, bertanya, menganalisis, berdiskusi, dan mengevaluasi informasi secara terus-menerus. Dengan menyediakan ruang untuk belajar dan berkarya, pers mahasiswa dapat membantu menciptakan lingkungan kampus yang lebih aktif, terbuka, dan intelektual.